Skip to main content

Posts

CERPEN SURAT DARI PARIS

  Surat dari Paris Oleh: R izki A ldea Sudah tiga tahun aku meninggal kan negara dan kota kelahiranku , terutama berjauhan dari ibu bukanlah suatu hal yang kuinginkan. Hanya bisa mengadu rindu lewat sebuah jaringan sosial media, melalui v i deocall aku bisa melihat wajah ibu yang begitu cantik. Aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan Magister di salah satu universitas ternama di kota Prancis dengan jurusan Psikologi Sastra.   “Bounzour,“ * Setelah mata kuliah selesai, sedikit mencari suasana baru agar tidak bosan jika harus berkurung di kamar kulangkahkan kaki melalui Pele Lachaise Cemetery menuju sungai Conciergerie . Akan tetapi, lebih indah jika berjalan pada saat musim kemarau, sebab banyak pohon serta bunga yang indah dan burung-burung merpati, tetapi kali ini semua pohon dan bangunan tertutupi salju, hanya sedikit orang yang berlalu - lalang.   Kulihat ada lelaki yang sedang melemparkan sesuatu ke sungai Conciergerie , tetapi tidak terlalu kup...

PUISI 15 OKTOBER 2017

Seperangkat duka Rizki Aldea ( Permadiksi/ Fkip Umsu) Kau seharusnya sesak dalam bak mandi yang menyesak Menepikan basah dipercikan luka Akibat sabun yang menyayat hatimu Seharusnya kau keluar bodoh Untuk memberitahu kepada luka bahwa kau telah habis kumandikan dengan dosa Kita; Kata Rizki Aldea (permadiksi/ fkip umsu) Kita yang hanyut terbawa duka kepedihan Mulai berlabuhlah di semak semak belukar cinta Kita yang tenggelam dalam sesak tangis yang terisak Membawa bencana jauh setelah prosa di kumandangkan Kita adalah cinta yang menyisihkan luka disetiap kata Kita adalah pena jauh kekar dan keras dari yang kita aminkan Lelaki dan Sepatu Rizki Aldea (Permadiksi/FKIP UMSU) Dari balik jendela pudar yang kabur Diantara batuk dan hujan yang tak reda sejak pagi Aku mencintaimu masih seperti sepatu Yang tetap jalan meski selalu kejar kejaran Yang sama sama memudar meski menginjak becek yang mengkekar Yang sama sama berjalan meski berputar-...

PUISI 12 NOVEMBER 2017

Aku Gila Mana Rizki Aldea (Kespera Medan/ Fkip UMSU) Perlahan aku paham Jalan ini sangat jangkal untuk ku bungkam Membuatku lelah beraroma padam Untuk memaksaku berhenti Demi mencari tempat teduh dari terik mentari Diam Hina Lebam Luka Senja Tulang Pipimu Rizki Aldea (Kespera Medan/ Fkip Umsu) Aku melihat senja tepat di bawah mata pandamu Mengalir lembut terharu serta membasuh kelabu Bagaimana mungkin jemariku tidak gatal untuk menyentuh liang wajahmu; Sedangkan kuperhatikan senja itu mulai mencair lalu mengkulup semu Tepat di bulu-bulu tulang pipimu

Cerpen BANDARA 7 januari 2018

BANDARA Cerpen: Rizki Aldea Pagi ini hujan deras, seperti mengerti bahwa hatiku pun ikut menangis. Butiran air menempel di kaca-kaca mobil yang hendak menghantar kami. Tangannya masih erat menggenggam jemari-jemariku. Bandara terbesar di Asia tenggara menjadi saksi nyata perpisahan antara aku dan Epan. Lelaki yang baru kukenal lewat salah satu sosial media. Cuti tiga hari membuatnya sibuk untuk mempersiapkan pertemuan pertama denganku, setelah menyelesaikan pekerjaaan di kantor lalu terbang untuk menepati salah satu janjinya denganku, ia janji untuk menjumpaiku. *** Dua bulan setelah kami berkenalan dan menjalin hubungan awan yang belum berjumpa aku berani mengiyakan saat ia memintaku untuk menjadi kekasihnya. Aku yang berprofesi sebagai mahasiswa tidak memiliki banyak waktu untuk setiap saat menemaninya berchatingan, begitupun dia yang sedang berkuliah dan juga bekerja, jadi diantara kami tidak ada paksaan untuk berhubungan setiap saat. Kesibukan kami membuat kami yak...