Aku suka kamu bukan karna melihat berapa banyak isi saku dan seberapa mewah transport yg kamu bawa untuk menjemputku buat jalan dipapahan ac dan escalator. Aku bisa kok makan dipinggir jalan jika harus ditemani debu dan asap kotor kendaraan, jika itu kita berdua jalanin dengan ikhlas dan tulus.
Dibanding pergi ketempat tempat mewah dan singgah direstoran sushi dan steak ratusan ribu yang disejukkan dengan ac dan parfume ruangan elit, serta sapaan "selamat datang tuan nyonya" Apalagi sampai pulang menenteng barang barang mewah dan mahal yang baru kita order dari patung patung yang tersenyum indah diruangan itu. Kamu bisa liat seberapa berartinya seseorg pasangan yg tulus dan ikhlas ngejalanin hari hari selanjutnya bersama kamu. Menemani kemanapun kamu mau, mensuport dalam semua hal positif yang esok akan membawa kesuksesan dikamu dan di aku. Caraku dengan perempuan diluaran sana jelas beda dong. Jika kamu berfikir bahwa aku munafik kamu bisa coba dan bisa kita jalanin hari esok dan seterusnya jika kamu memang sangat penasaran:) hari ini aku akan mengajarkan kamu cara mengenal "Its Me" . mungkin besok atau lusa aku bakal ngajarkan kamu tentang semua isi dunia dan arti kehidupan:) filosofilnya semudah itu:)
Cerpen: Rizki Aldea Kumandang lafaz Allah sudah terdengar merdu di telinga, hari-hari penuh ibadah ini sangat dinanti-nanti oleh semua orang yang sangat merindukannya. Alhamdullillah masih berjumpa dengan bulan ini. Masih diberi umur panjang oleh-Nya. Berkat doa-doa tahun lalu agar tetap diberi kesehatan dan kesempatan untuk berjumpa lagi. “Mari Sa, sudah mau adzan isya.” Ibu memanggilku dari depan rumah. “Iyabu sebentar masih cari mukenah baru.” Jawabku dari dalam kamar. “Yaampun kamu ini masih saja seperti anak baru besar yang apa-apa harus baru. Pake yang lama saja sudah. Nanti kita tidak dapat tempat di dalam.” Pinta Ibuku yang membuka kain penutup pintu kamarku. Kami bergegas untuk menuju mesjid yang lumayan jauh dari rumahku jika ditempuh berjalan kaki. Sepanjang jalan Ibu mengomel karena aku lama sehingga sudah adzan kamipun belum sampai mesjid untuk mengisi shaf pertama. “Kamu sih lama, lihatkan itu mesjid sudah penuh.” Ujar Ibuku melihat teras mesjid sudah dipenuhi jamaah sho...
Comments