kadang aku berfikir kapan aku harus diam dalam mencintai seseorang yg sudah menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak mencintaiku:') ntah aku yg salah ntah dia tetapi yg pastinya dia dulu pernah membiarkan aku untuk mencintainya dengan sepenuhnya ssampai sampai aku lupa bahwa org lain dapat menggantikan posisiku saat ini:') waktu biarkan lah kisah kami berjalan pada ketetapan yg tuhan berikan:') jangan cepatkan kau berputar agar aku tetap merasakan kenyamanan yg berstatus teman ini:') aku harus diam dan aku harus bisa sadar bahwa hanya kaulah (waktu) yg dapat menjawab aku dan dia akan menjadi apa:") afl~
Cerpen: Rizki Aldea Kumandang lafaz Allah sudah terdengar merdu di telinga, hari-hari penuh ibadah ini sangat dinanti-nanti oleh semua orang yang sangat merindukannya. Alhamdullillah masih berjumpa dengan bulan ini. Masih diberi umur panjang oleh-Nya. Berkat doa-doa tahun lalu agar tetap diberi kesehatan dan kesempatan untuk berjumpa lagi. “Mari Sa, sudah mau adzan isya.” Ibu memanggilku dari depan rumah. “Iyabu sebentar masih cari mukenah baru.” Jawabku dari dalam kamar. “Yaampun kamu ini masih saja seperti anak baru besar yang apa-apa harus baru. Pake yang lama saja sudah. Nanti kita tidak dapat tempat di dalam.” Pinta Ibuku yang membuka kain penutup pintu kamarku. Kami bergegas untuk menuju mesjid yang lumayan jauh dari rumahku jika ditempuh berjalan kaki. Sepanjang jalan Ibu mengomel karena aku lama sehingga sudah adzan kamipun belum sampai mesjid untuk mengisi shaf pertama. “Kamu sih lama, lihatkan itu mesjid sudah penuh.” Ujar Ibuku melihat teras mesjid sudah dipenuhi jamaah sho...
Comments